Impian Anak Broken Home

Kalau hidup bisa memilih, aku pengen dilahirkan di keluarga pak Presiden!” ucapku puluhan tahun silam. Pertanyaan polos namun menggelitik, pasalnya tak satupun manusia punya kuasa untuk menentukan titik awal kehidupannya. Terlepas dari segala kemajuan zaman, ada bagian-bagian yang memang telah ditetapkan Tuhan untuk selamanya menjadi misteri, yaitu perihal kelahiran dan kematian.

Terlahir di keluarga yang tercabik masalah perceraian memang bukan dambaan, tetapi adalah sebuah kenyataan. Tak lepas dari itu, jerat kesulitan ekonomi terus menghantui setiap detik keluarga kami. Papa hanya bekerja sebagai pedagang pukis di Pasar Gang Saleh kota Bandung, sedangkan Mama berjuang menopang usaha pukis itu dari rumah seraya mengurus keempat anak.

Kota Bandung menjadi saksi dari kenangan sejarah yang panjang. Tahun 1994 ketika aku dilahirkan, tak ada perubahan yang berarti di keluarga. Ketiga kakakku beserta papa dan mama tetap hidup serba pas-pasan. Bermodalkan sebuah ruangan sempit yang dikontrak dengan susah payah, ditambah kehadiran seorang bayi tentunya membuat suasana semakin keruh.

Kekeruhan kehidupan itu semakin menjadi ketika papa terjerat dalam perjudian. Banyak hal dikorbankan, termasuk keharmonisan keluarga. Piring terbang, pisau melayang, cacian, umpatan, pukulan fisik tidaklah asing bagi kami semua. Malahan kami heran ketika hari-hari tidak diwarnai hal itu, seperti ada sesuatu yang aneh. Memang, secara sepihak kami menghakimi kalau Papa adalah sumber segala kericuhan ini.

Mama, aku dan ketiga kakakku selalu bermimpi setiap harinya. “Andai kita lahir di keluarga si anu, pasti sekarang hidup kita gak begini, pasti begitu,” doa yang selalu terpanjat. Doa itu mungkin tidak bagus, malahan mengandung kesan tidak bersyukur. Tapi, ketika itu diucapkan dari sanubari terdalam, Tuhan tentu tahu maksudnya.

Kawan, waktu terkadang tidak menyembuhkan segalanya, tapi waktu menyatakan segalanya. Hingga detik tulisan ini ditulis, tak ada perubahan berarti dari keluarga kami. Hingga ini posisi kedua orang tua kami “bercerai” dan tidak ada komunikasi sama sekali. Tetapi, sekali lagi ini bukanlah sesuatu yang patut kami tangisi dan sesali.

Ada satu mimpi yang kami dapat sebagai anak-anak broken home. Alam semesta hendak mengajari kami kalau ada banyak misteri dalam hidup ini yang di dalamnya manusia tak punya kuasa apapun. Hidup sial hingga kematian bukan semata-mata terjadi karena dosa dari nenek moyang atau karena kurangnya kesalehan seseorang pada Tuhannya. Nyatanya, hal buruk tetap saja terjadi.

Ada yang terlahir miskin sejak lahir dan harus kembali dalam kondisi serupa seperti ia dilahirkan. Ada yang bermimpi ingin menjadi orang kaya namun mimpinya harus terkubur bersama dengan kenyataan pahit. Terlahir dalam kondisi hancur bukan alasan untuk menjadi larut dalam kehancuran. Dunia ini telah memberikan contoh manusia-manusia hebat yang datang dari kehancuran.

Thomas Alva Edison, sang penemu lampu tak akan mungkin menjadi penemu dan namanya dikenang sepanjang sejarah apabila ia tidak di drop out dari sekolahnya. Seorang Nick Vujicic tak akan pernah menginspirasi jutaan orang ketika ia memiliki tangan dan kaki yang utuh. Terkadang, alam semesta menggunakan ciptaan yang paling rapuh untuk menggetarkan dunia.

 

(Bersambung…..)

Lagi sumuk….

 

 

Iklan

One thought on “Impian Anak Broken Home

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s