Sabang, Potret Keindahan Pariwisata Aceh

Sabang bisa jadi tidak setenar Bali, namun Sabang setidaknya selalu jadi daerah yang turut disebut ketika orang mengatakan Nusantara yang membentang luas hingga Merauke di timur. Sebetulnya, ada pulau yang lebih barat lagi daripada Sabang, yaitu pulau Rondo. Namun, pulau Rondo hanya dijadikan tempat mercusuar saja mengingat ukurannya yang kecil.

Selepas Banda Aceh, tepatnya pada 1 Juli 2015 kami melanjutkan perjalanan menyeberangi selat antara Sumatra dan Pulau Weh. Ferry bertolak dari pelabuhan Ulee-Lheue pukul 14:30 dan melesat lambat ke tengah lautan nan biru. Kala itu kami tak memiliki gambaran apapun soal keindahan Sabang, tapi lautan biru sepanjang perjalanan membuat kami yakin kalau Sabang layak mendapat predikat surga.

IMG_3078
Berlayar menuju Sabang menggunakan Ferry

Kelelahan akibat perjalanan semalam suntuk dari Binjai ke Banda Aceh, kami pun tertidur hingga beberapa saat sebelum Ferry berlabuh. Sekitar tiga jam kurang, Ferry mulai bersiap merapat ke Pelabuhan Balohan. Ketika kami menghampiri geladak, lautan nan biru menghampar luas dihiasi dengan bukit-bukit hijau yang menandakan kami semakin dekat dengan Pulau Weh.

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk Ferry merapat sempurna di dermaga. Penumpang yang tak sabaran mulai berebut turun, ada yang dorong-dorongan bahkan ada pula yang memanjat pagar ketimbang menunggu antrian lancar.Tak acuh dengan ratusan penumpang lainnya, senyum tipis mengembang di wajah kami. “Sabang, kami segera datang!”

IMG_3093
Sesaat sebelum merapat di Pelabuhan Balohan

Seperti biasa, puluhan ojek dan penyewa mobil merangsek masuk ke antara kerumuman penumpang untuk mencari turis. Kami pun tak luput dari incaran, beragam penawaran mereka berikan. “Sir, need homestay? come with me!” sahutnya. Namun, kami menolak karena kami sudah menetapkan untuk mencari persewaan motor di Pelabuhan Balohan.

Keluar dari gerbang pelabuhan kami menemukan sebuah kios kecil bertuliskan sewa motor, namun kios itu tutup dan kami kebingungan. Seorang pemuda menghampiri kami sambil mengendarai sepeda motor Yamaha Mio tanpa spion dan helm. Dia menawarkan untuk menyewakan motor dengan harga Rp 150.000,- per hari. “Wah! Mahal kali bang, kami tak ada uang segitu besar, cuma mahasiswa dari Jogja. Lima puluh lah sehari, kami pakai lima hari!” tawarku. Namun, ia menolak dengan tetap mematok harga Rp 100.000,-

Kondisi saat itu adalah sama-sama butuh. Kami butuh motor untuk berkeliling Sabang sedangkan dia juga butuh uang. Akhirnya kami sepakat di harga Rp 70.000,- per hari. Ya sudah, tak apalah pikir kami, toh, motornya juga masih baru walaupun tak ada spion dan helm.

Pukul 16:00 transaksi sewa menyewa selesai. Tak ada kwitansi ataupun uang jaminan. Cukup hanya KTP yang dititipkan, setelah itu motor bebas dibawa sesuka hati. Perjalanan kami dimulai menuju Pantai Iboih yang menurut Lonely Planet adalah spot terbaik untuk menikmati Pulau Weh.

IMG_3156
Iboih nan sepi

Kami harus menempuh jarak 40 Km untuk tiba di Iboih. Tapi, jarak bukan hambatan karena jalan di Pulau Weh ini sangat mulus, nyaris tak ada lubang di setiap ruasnya. Jalanan akan menanjak dan melewati gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sabang, Titik Nol Indonesia” kemudian jalan mulai berkelok dan memasuki belantara yang masih terjaga. Perlu diwaspadai, banyak kawanan monyet nongkrong di pinggiran jalan mengais rezeki. Tak jarang ada monyet yang ganas dan berusaha mencegat motor yang melintas.

IMG_3097
Senja di Iboih

Tiba di Iboih, semua rasa lelah terbayar. Pantai yang jernih, berarus tenang dan sepi pengunjung ini laksana surga. Kami harus mencari penginapan dengan harga backpacker yang terjangkau. Penginapan di dekat area parkiran umumnya dihuni turis lokal dengan biaya Rp 200-500 ribu, sedangkan untuk kelas backpacker terletak di pojokan, jadi harus berjalan kaki dulu naik bukit.

IMG_3140
Yulia’s Guest House. Harganya sekitar 75.000-200.000 per malam

Harga penginapan kelas backpacker ini fantastis. Dengan view menghadap lautan hanya dibanderol Rp 50.000 – 200.000,-. Kami mendapatkan sebuah pondokan dari Fatimah Homestay. Pemiliknya memberikan kami harga Rp 50.000,- untuk dua malam pertama dan Rp 75.000,- untuk malam selanjutnya. Kami terima tawaran itu mengingat lokasi pondok kayu memang langsung menghadap ke laut.

IMG_3127
Homestay Fatimah seharga Rp 50.000,- per malam

Namun, sekali lagi patut wapada karena menjelang sore monyet-monyet akan turun dari hutan dan duduk-duduk di teras pondok. Entah apa yang ada di pikiran monyet itu, tapi mereka seolah membajak pondokan kami setiap sore tanpa menggubris jika diusir.

IMG_3233
Siapa yang tak tergoda untuk nyemplung?

Selama lima hari kami habiskan di Sabang. Aktivitas utama hanya bengong, meditasi, snorkeling, makan dan berjalan-jalan. Johannes memilih untuk diving , sedangkan aku bertugas memotret dan jalan-jalan sendiri.

IMG_3111
Beningnya air laut di Iboih

Untuk urusan konsumsi setiap hari kami datang ke Mama Mia, sebuah gubuk kayu yang dihuni sepasang ibu tua dan anaknya. Mereka menyediakan makan lengkap sehari tiga kali dengan harga Rp 25.000,- per sekali makan. Menu yang disediakan lebih ke menu rumahan namun dengan tambahan sea food. 

Mama, begitu para turis menyebutnya. Beliau telah puluhan tahun menetap di Pantai Iboih. Dengan bahasa Inggris sederhana, beliau melayani setiap turis yang hadir dan mampir ke tempatnya. Ketulusan “MamaMia” membuatnya tak pernah sepi dihampiri oleh turis-turis asing.

IMG_3216
Desa Iboih, Sabang, Pulau Weh

 

IMG_3292
Bersama Markus Semrau dan Johannes Tschauner. Kami menjadi satu tim selama di Sabang

Puas dengan aktivitas harian snorkeling, kami pun mencoba pergi ke Titik Nol Kilometer Indonesia. Perjalanan menembus hutan yang masih rimbun ini hanya butuh waktu satu jam kurang. Tiba di Titik Nol kami disambut sebuah monumen yang sedang dalam tahap pembangunan. Merinding sekaligus takjub, karena tidak menyangka bisa pergi ke titik nol. Kami menghabiskan senja hingga pukul 19:30 di Titik Nol. Oh ya, di Sabang matahari baru tenggelam sempurna sekitar pukul 19:30 WIB, jadi hari terasa lebih panjang disana.

IMG_3193
Yeah, Titik Nol Indonesia

Jumat, 4 Juli 2015 kami berencana pergi ke Kota Sabang. Masak sudah jauh-jauh ke Pulau Weh tapi tidak mengunjungi kota Sabang. Sebelumnya, seorang kawan dari Takengon menginfokan kalau di Sabang itu ada tradisi unik, biasanya penduduk akan tidur siang mulai pukul 13:00-15:00. Wah, selow amat ya bisa ada waktu tidur siang. Awalnya aku tidak percaya, tapi setibanya di Sabang memang kebanyakan orang tidur pada waktu itu, suasana begitu santai.

IMG_3170
Jalanan di Pulau Weh

Di Sabang mayoritas warganya tidak menggunakan helm saat berkendara, termasuk kami. Awalnya was-was ketika melewati kantor Polisi, tapi ternyata banyak juga yang tak pakai helm, ya sudah kami biasa saja.

IMG_3168
Mas Paijo

Kota Sabang tidaklah besar, namun rapi dan asri. Pepohonan menghiasi setiap sudut kota. Untuk rumah ibadah, Sabang memiliki Masjid, Gereja dan juga Kelenteng kecil yang terdapat di dekat pasar. Nilai-nilai toleransi dan kebersamaan sejatinya sudah hadir bahkan dari pulau paling luar dan barat Indonesia.

IMG_3289
Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Sabang

Di sudut kota terdapat sebuah pantai bernama Pantai Kasih. Entah apa yang mendasari pemberian nama pantai ini, namun Pantai Kasih sungguh teduh. Gelombang relatif besar dan berangin, pasir putih lembut dan tak banyak orang di sana. Di ujung pantai berdiri sebuah homestay dengan nama Homestay Pantai Kasih.

IMG_3249 copy
Pantai Kasih

Selain pantai Kasih, terdapat banyak pantai lain di seputaran kota Sabang ini. Jika ingin melihat panorama spektakuler bisa mengelilingi jalan berbukit yang mengarah ke Pelabuhan Balohan, bisa dipastikan kita akan terpukau melihatnya.

IMG_3277
Jalan menuju pelabuhan Balohan

Satu pengalaman unik selama di Sabang adalah ketika siang bolong, kami kelaparan. Mama Mia tertidur pulas sehingga tak sopan jika kami membangunkan beliau. Akhirnya di tengah bulan Ramadhan kami berusaha mencari tempat makan siang. Mengelilingi wilayah Sabang, tepatnya di bagian selatan kami bertemu dengan seorang bule Perancis.

Kami putus asa dan kelaparan. Semua warung tutup, ataupun jika buka pastilah tak akan mungkin melayani pembeli di bulan Ramadhan. Kami hanya duduk-duduk di pinggir pantai sembari melamun, tiba-tiba dari sebuah gubuk warung yang tutup keluar seorang Bule sudah tua dan jangkung. Dia meneriaki kami, awalnya menggunakan bahasa Inggris.

IMG_3186
Pantai di Selatan Pulau Weh

Namun, kami kaget ketika kemudian dia berbicara dalam bahasa Indonesia logat sabang yang kental. Namanya Philip, seoarang Perancis yang terlanjur jatuh cinta dengan Sabang. Ia sudah menetap selama 25 tahun di Sabang namun setiap tahun pasti pulang ke Perancis untuk menunaikan pekerjaannya sebagai pembersih cerobong asap. Tinggal di Sabang, ia beralih profesi sebagai nelayan yang memiliki dua kapal.

 

IMG_3189
Pantai di depan gubuk milih Philip

Seraya bercerita ia bertanya, “Kalian lapar? Aku bisa masak mie buat kalian, tapi masuk ke dalam jangan sampai dilihat orang.” Oke, kami menurut. Dia memasakkan kami sebuah mie goreng lengkap plus jus sirsak campur terong belanda. Waw, segar sekali. Berdasar penuturannya, Philip telah dikaruniai seorang anak dari hasil pernikahannya dengan seorang wanita yang ia temui di Medan.

Hidup di Sabang bagai hidup di surga jelasnya. Damai dan tenang, tak ada beban hidup selain pergi melaut membuatnya ogah untuk pulang kembali ke Eropa. Namun, ia masih tidak mau melepas kewarganegaraan Perancisnya. Perbincangan kami dengan Philip sungguh mengasyikkan, ia punya segudang cerita unik pengalaman bersama warga Sabang.

“Dulu waktu Tsunami, hampir tidak ada korban di wilayah ini karena memang berbukit-bukit. Rumah juga dikit yang rusak tapi waktu itu bantuan datang banyak sekali,” kenangnya tentang peristiwa Tsunami. Jadi, jalanan yang mulus di Pulau Weh salah satu penyebabnya adalah masuknya bantuan Internasional untuk revitalisasi infrastruktur akibat bencana alam Tsunami.

Puas bercerita, kami dipatok harga Rp 30.000,- untuk sepiring mie dan segelas jus tadi. Harga yang cukup murah untuk ukuran Sabang. Berhubung matahari yang semakin tenggelam kami meninggalkan Philip di warungnya dan bergegas kembali ke Pantai Iboih.

Sabang, Permata Kebanggaan Aceh

Hari Senin, 7 Juli 2015 kami bertolak meninggalkan Sabang menuju Banda Aceh.Berat karena hati kami masih tertambat di Pantai Iboih. Sabang memberikan tak hanya pesona, melainkan sebuah potret akan kemajemukan dan kearifan Indonesia sebagai bangsa maritim.

Warga Sabang paham betul akan menjaga lingkungan. Setiap Kamis hingga Jumat, warga memperingatinya sebagai “hari istirahat” untuk lautan. Tak ada aktivitas yang dilakukan di pantai. Memancing, snorkeling, berenang dan lainnya semua harus ditunda selama 24 jam dengan tujuan memberikan waktu bagi laut untuk terbebas dari tangan manusia.

Kearifan dan ketenangan Sabang inilah yang menjadi magnet bagi ribuan bacpacker dunia untuk singgah. Tak ada penyesalan untuk mengunjungi Sabang, hanya kagum yang akan terus membekas hingga hari tua.

IMG_3212
Senja di Pulau Weh

mari-rayakan-sabang-marine-festival-2016-lewat_tulisan

Video Pesona Sabang :

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s